Work Hard
18:29, 2 February 2017Fanfiction by jkookie
Teh panas yang sudah habis tertandaskan. Tv menyala bersiarkan berita-berita hambar, bahkan tidak menarik. Memang siapa yang mau menonton tv sepanjang hari sendirian? Pasti membosankan. Ditambah dengan rumah yang besar, dua berpenghuni yang jarang bertatap muka. Apalagi ditambah seorang yang benci sendirian ketika dirumahnya. Berdiam diri menunggu kepulangan pemilik rumah satu lagi.
"Sampai kapan aku seperti ini? Sudah mirip dengan anjing penjaga rumah saja"
Mungkin ini masih pukul setengah sepuluh malam, tapi Ia selalu merasa sedemikian setiap hari. Akhirnya diapun beranjak dari sofa yang hampir kisut itu. Membawa gelas kotor dan sisa cemilan yang menjadi teman penyimak tv sepanjang hari.
Ke esokan harinya ketika Ia bangun, menatap cermin hendak menggosok giginya. Ia tak sadar bahwa pasta giginya telah habis, hingga akhirnya diapun memilih untuk memasak makanan kecil untuk dirinya sendiri. Mungkin..
"Kenapa sandwitch nya hanya satu? Bagianku tidak ada? "
Dia, seorang yang sedang menyusun sayuran diatas remahan roti terhentak kecil. Lantas dia menoleh ke arah dimana seseorang yang–
Bisa dibilang jarang berbicara padanya.
"Oh, ku kira sudah berangkat. Jadi aku hanya membuat satu"
"Jimin, ini masih pagi. Mana mungkin aku berangkat kerja pukul enam?"
"Siapa tahu kan ada meeting" Katanya demikian ketika sibuk memanggang roti.
"Tidak ada sayang, meeting-ku hanya malam hari"
Jimin selesai memanggang, Ia berbalik dan menghadap Jungkook-
Seorang yang imut, mengoceh tentang jatah makanannya.
"Lagi pula, kamu jarang mekan dirumah. Sarapan yang kubuatkan juga sia-sia. Makan malam yang ku simpan di kulkas juga tidak disentuh sama sekali"
Jungkook memiringkan kepalanya, alisnya berkerut dan berbalik menatap kulkas disamping kanannya. Membuka kulkas itu, terdapat puding susu didalamnya.
"Percuma kan, aku membuatkan makanan untuk mu"
"Iya ini nanti bakal dimakan kok"
Jimin mulai duduk dan memakan sandwitch buatannya. Tapi Jungkook malah sibuk mengurus puding susu buatan Jimin yang mungkin sudah hampir basi. Jungkook meletakkan puding itu di atas meja, bersama kedua sandwitch yang Jimin buatkan.
"Bagaimana jika kita makan ini setelah sarapan?"
"Kau gila? Ini sudah hampir tiga hari tersimpan di kulkas, sudah buang saja"
Jungkook merengut, ketika Jimin beranjak membuang puding susu yang sudah Jimin buat dengan susah payah. Tapi jika sudah basi, apa boleh buat. Bisa-bisa Jungkook menginap di rumah sakit dengan perihal keracunan.
"Kan sayang kalau di buang"
"Biar saja, lebih sayang jika tidak dimakan sebelumnya"
"Loh.. "
"Sudah sana urusi saja kerjaan mu yang penting itu, dari pada makan makanan beginian. Lebih enak makan di retoran bersama teman-temanmu"
Jimin memakan sandwitch Jungkook dan miliknya sekaligus. Wajahnya merengut bersama mulutnya yang menggembung. Dengan perasaan kesal Jimin segera beranjak dan meninggalkan Jungkook di dapur.
.
.
.
Pukul sembilan lebih seperempat, Jimin menaiki tangga untuk menyiram tanamannya di lantai atas. Ia sudah sering melakukan ini, pada jam ini, menit ini, detiki ini sekarang juga. Waktunya selalu sama. Waktunya selalu membosankan. Ditinggalkan Jungkook yang selalu sibuk bekerja seharian. Tanpa memperdulikan Jimin yang kesepian dirumah. Sedangkan Jungkook selalu bersenang-senang di kantornya.
Jimin tidak pernah bertemu Jungkook. Jungkook selalu pulang saat Jimin tidur, dan katika Jimin bangun tidur pun Jungkook sudah berangkat kerja.
Tidak ada waktu untuk mereka.
Hanya di saat tertentu saja.
"Sialan! Mendingan juga tinggal di asrama daripada di sini, Jungkook sialan! "
"Sial-sial-sial-siaaaal ! "
Jimin berteriak sambil melempar batu ke arah teras bawah.
"Apanya yang sial?" Tiba-tiba saja Jungkook berkata tepat disamping telinganya.
"Loh, kok belum kerja?"
"Cuti sayang"
"C-cuti katamu..? "
Jungkook mengangguk, sambil tersenyum memaparkan deretan gigi kelincinya. Jimin sedikit tersendat nafasnya sendiri.
"Tumben cuti" kata Jimin datar.
"Memangnya aku tidak boleh cuti?"
"Bukannya memang tidak mau cuti ya? Kan pekerjaanmu penting"
"Iya, tapi tidak selamanya penting"
"Tapi setiap hari kan"
"Kok kamu jadi sensitif sih?"
"Memangnya kenapa, salah gitu"
"Jimin, kamu marah..? "
.
.
.
"Siapa yang tidak marah Kook, aku ini siapamu sih? Pacar atau anjing penjaga?"
"Jim–"
"Setiap kali, kamu pulang pasti aku sudah tidur. Ketika aku bangun kamu sudah kerja. Dan kamu selalu meninggalkan aku sendirian. Tidak pernah memakan sarapanku, tidak pernah memelukku ketika pulang. Aku selalu menunggumu Jungkook, tapi kamu tidak pernah membagi waktu!"
Bagaimana air mata itu bisa lolos? Sekian kali Jimin mencegah air mata itu untuk tidak lolos dihadapan Jungkook. Tapi sepertinya, Jimin memang sudah memperjuangkan waktunya demi Jungkook.
"Astaga Jimin, maaf kan aku. Aku selalu meninggalkanmu bekerja. Maaf juga kita jarang memiliki waktu.. Tapi, aku kerja seperti ini sebenarnya ada hal lain"
"Maksudmu? " Jimin mengusap air matanya.
"Ini... "
Jungkook memberikan sebuah keranjang. Dan Jimin membuka keranjang itu, Ia terkejut mendapati se ekor anjing kecil yang lucu berbulu coklat muda.
"Jungkook.. "
"Iya, ini anak anjing yang kamu lihat di toko hewan minggu lalu. Awalnya aku ingin membelinya, tapi uangku tidak cukup. Maka dari itu aku kerja keras agar dapat membelikannya untukmu"
"Oh ya, Jimin. Selamat Ulang Tahun, anak anjing ini kado untukmu dariku"
"Hari ini, ulang tahunku? Aku betul-betul tidak menyadarinya"
Jimin terkejut lagi, matanya terbuka lebar-lebar menatap Jungkook. Bahagia bukan main. Hingga hari ulang tahunnya saja Ia bahkan lupa.
"Makannya, jangan marah-marah terus" kata Jungkook lembut, sambil mencubit pipi Jimin.
"Iya, maaf"
"Itu sebabnya aku mengambil cuti, sekarang kamu boleh memiliki ku sepenuhnya. Waktuku hanya untuk Jimin hari ini❤"
Jimin tersenyum lebar, mengubah mata nya yang mula-mula terbuka lebar menjadi sepasang bulan sabit yang indah. Memeluk Jungkook sangat erat dan tidak ingin melepaskannya. Hanya untuk hari ini. Jimin ingin menghabiskan waku hanya dengan Jungkook. Hanya hari ini..
.
.
.
"Jungkook, apa kau masih pulang larut?"
"Hanya senin sampai kamis saja kok. Jumat sampai minggu hanya setengah hari"
"Kalau begitu sama saja ≥3≤ "
"Kan ada ippi sayang"
"Anjing ini namanya ippi.. Ya?"
"Hmm :) "
"Kookieee, jangan pulang malam-malam"
"Iya, setelah pulang malam Kookie bakal bangunin Jimin biar bisa peluk Kookie deh❤"
"Janji ya?"
"Yes babby"
.
.
.
Selesai.
.
.
.
Happy maljum ya say, di puasin sampai okay wkwk.
Maksutnya dipuasin bacanya'-'
There are no comments yet. Log in to be the first to leave a review!





