My Star
10:42, 30 December 2016Fanfiction by : Jkookie
.
.
.
.
.
Jeon Jungkook with Park Jimin
.
.
.
.
Desember, 10
Nampaknya malam ini bintang enggan tampak di atas langit. Dikalahkan oleh gumpalan awan cumulonymbus. Jangan heran dengan laki-laki imut ini, Ia masih fokus dengan teleskopnya memburu bintang-bintang. Mungkin bulan masih setia dengan cahaya remangnya menemani si mungil ini. Indah, membuatnya lebih cerah dari kaos panda yang dipakainya.
Park Jimin. Itu namanya, manusia manis dengan tipe star mode on. Untuk malam hari saja. Dari atas gedung astronomi ini Jimin dapat melihat segalanya. Favoritenya adalah alat teleskop yang sekarang sedang Ia utak-atik.
18.05
"Aku rasa bintang tidak akan muncul malam ini"
"Kau lihat awan cumulonymbus itu?"
"Ya, kurasa akhir ini malam sering terjadi badai"
Wajahnya berubah sayu kuyu. Mengenai malam ini sering terjadi badai membuatnya hilang harapan, untuk menengok bintang yang sering dibicarakannya.
Tak lama kemudian benar, hujan turun rintik-rintik membasahi teleskopnya dan juga dirinya sendiri.
Desember, 11
Ke esokan harinya. Dia selalu mencatat dimana hari saat Ia dapat menemukan bintangnya. Mencatat dimana hari saat Ia tak dapat menemukan bintangnya. Note booknya mayoritas tertulis saat Jimin tak dapat melihat bintang. Itu tertulis hingga sepuluh halaman penuh.
Sampai di dalam kelas, Ia menjumpai Jungkook di sana. Seseorang yang memberitahu tentang cumulonymbus. Awan hitam yang sering mengakibatkan badai besar. Dan itu terjadi sampai pagi ini.
"Jadi, aku tidak akan melihat bintang sampai bulan ke depan?"
"Mungkin saja"
Ekspresi sayunya terbentuk lagi. Membawa note book star itu dan pergi dari kelas. Jimin terlihat murung akhir-akhir ini. Atau karena awan hitam itu penyebabnya.Ia menengadah ke langit-langit. Semua warna tampak abu-abu. Di tepi lapangan olahraga, bokongnya menapak diatas rerumputan. Suasananya masih sama, dingin tidak ada matahari. Membosankan.
13.25
Siang juga terasa sore. Selama ini Jimin merasakan musim yang membuat perasaannya memburuk. Liburan tengah berjalan dua hari lagi. Dan Jimin tak memiliki rencana untuk memburu bintang lagi.
"Memang apa bagusnya bintang malam?"
"Itu membuatku merasa memiliki teman. Tidak ada cahaya yang secantik bintang-bintang kecil. Mereka seperti kunang-kunang"
"Tapi apa kau harus se buruk ini Jimin, bahkan kau tidak memiliki rencana untuk menghabiskan liburan"
"Tidak perlu. Aku tidak memiliki keluarga, untuk apa berlibur. Yang ku inginkan hanya bintang kecil yang menemaniku"
Apa salahnya. Yang Ia inginkan hanya sebuah teman. Tidak ada yang menemaninya. Ia masih enggan berbicara dengan ibunya, yang sekarang memiliki keluarga baru. Ayahnya be kerja di Italia. Tak ada yang menenmaninya, ayahnya juga jarang menelfon. Paling tidak hanya bermain pesan, dan memberinya uang untuk hidupnya.
"Kalau begitu, mau kah kau menghabiskan liburan bersamaku?"
"Tapi Jungkook, liburan sebaiknya dihabiskan bersama keluargamu. Bukan denganku"
"Mereka belum kembali ke Busan sejak dua bulan yang lalu, aku fikir mereka akan menghabiskan liburannya di sana"
Desember, 12
Liburan akhirnya datang. Jimin sebenarnya ingin mengamati bintang yang bagus. Tapi awan itu masih saja setia di wilayah Busan.Hari itu juga Ia ditemani Jungkook. Untuk menghabiskan liburannya akhir pekan.
"Apa rencanamu hari ini?"
Jimin menatap keluar jendela. Mengamati rintik-rintik hujan yang mulai mengembun di kaca jendelanya.
"Tidak ada"
Ia hanya terus melamun sepanjang hari. Sampai Jungkook tidak tahu harus melakukan apa. Hingga malam pun Jimin masih tak ingin berbicara.
22.05
Jungkook beralih mendekat. Mencoba membujuknya untuk melakukan suatu hal yang bahagia untuk mengisi liburan Jimin.
"Kau tahu, kau seperti manusia yang tak memiliki warna hidup"
"Tak ada warna di hidupku. Tak ada alasan untukku mewarnainya"
"Kau tahu Jimin, apa jadinya jika bintang tak mau lagi menampakkan cahayanya di hadapanmu?"
"Aku tahu, aku akan sendirian"
"Tapi, jika bintang itu beralih menemanimu, Meskipun tak memiliki cahaya?"
"Itu tidak mungkin"
"Sekarang tutup matamu"
Jimin menutup matanya. Apapun yang Jungkook katakan semuanya tidak akan terjadi padanya. Ia tahu Ia sendiri, dan akan terus sendirian. Tapi, ketika Jungkook menyuruhnya membuka mata..
"Jungkook... "
"Ia di sini Jimin, bersamamu"
Wajahnya langsung berubah drastis. Matanya membulat, berkaca-kaca. Senyuman tersungging di ujung-ujung bibirnya. Manis sekali. Kepalanya menengadah, menatap bintang yang bersarang di atap kamarnya. Jungkook tahu, saat lampu kamar Jimin di matikan ada beberapa bintang kecil dan lukisan lukisan akan bercahaya di dalamnya. Membuat kesan indah, yang membuat perasaannya kembali membaik.
"Ini indah Jungkook. Aku tidak pernah menyadari semua hal di kamarku"
"Ya aku tahu, sekarang jangan merasa sendirian lagi Jimin. Aku di sini. Bersamamu"
"Bersamaku? Tapi.. "
"Aku bersamamu, dan seterusnya seperti itu Jimin"
"Jungkook.. Aku suka kau, dan kau akan menjadi bintangku. Meskipun tak bercahaya"
Dengan ini, semoga Jimin memiliki rencana liburan untuk hari berikutnya. Bersama Jungkook. Seseorang seperti bintang tapi tak bercahaya...
Jungkookie, look like a star :)
End.
There are no comments yet. Log in to be the first to leave a review!





