[ SPECIAL EDITION ]
02:18, 12 September 2016Dia baik, lugu dan buruk dalam mengekspresikan perasaannya. Itu sebabnya dia imut. Jungkook miliku.
.
.
Park Jimin
.
.
Sampai saat inipun Jungkook belum mengetahui sebab Jimin memiliki wajah se-lucu domokun. Seperti boneka milik adik kecilnya. Suatu ketika Jungkook pernah menjumpai Jimin dalam keadaan bersimpah coklat disekitar mulutnya. Untuk sepekan terakhir Jungkook tertawa lepas karena itu,
"Kenapa tertawa?"
Jungkook hampir tersedak, karena Jimin berbicara lebih seperti menggertak. Atau mungkin hanya perasaan Jungkook saja, yang beranggap bahwa Jiminlah yang menjadi obyek rasa lucunya.
"Tidak ada kok"
Pria ini kembali terkikik diam disepanjang jalan. Sedikit melirik ke arah sampingnya yang sedang mencucupi eskrim coklat. Tidak habis-habisnya pria ini bertingkah lugu menanggapi temannya yang imut itu. Berpapasan dengan jarak 7 cm, Jimin dapat mendengar jelas kikikan lirih mulut Jungkook.
Ia merengut. Kembali melahap eskrimnya yang lezat. Baik, ini tidak adil karena itu adalah eskrim milik Jungkook.
"Apa? Tidak rela memberikannya padaku?"
Oh. Lihat Jungkook terkejut. Terkadang Jungkook juga beranggapan apabila Jimin itu sedikit aneh. Anehnya adalah dia pria berparas imut, dengan sikap manja seperti kebanyakan anak kecil. Jungkook tidak akan keberatan.
"Bahkan sangat" Jungkook sedikit mengacak rambut Jimin yang terkulai sampai dahinya.
Rambutnya kian berhambur seperti tersapu angin. Lembut seperti marshamallow vannila yang dia sukai. Well— domokun tidak seperti itu. Tapi tetaplah lucu bagi Jungkook. Jimin tiba-tiba menangis, tidak kiranya Jungkook menelik ke arahnya yang jatuh tersungkur dengan dahi serta tulang kering yang berdarah. Dia meringis sengit.
"Sakit?"
"Menyenangkan Jungkook"
"Baguslah"
Secara pribadi, Jungkook sendiri menanggap— se manisnya wajah seorang Park Jimin adalah orang yang tangguh. Pasti dia akan bangkit dan mengobati diri dengan kekuatannya. Tapi fakta mengungkapkan bahwa Jimin 180 derajat bukan orang yang seperti yang Jungkook gambarkan.
"Jungkook, ini sakit!"
Tentu. Jimin akan menangis. Kian mengeras dengan mata sabit yang berlinang air mata menatap Jungkook, dari bawah. Pria ini hanya menatap polos dengan mode tangan Ia selipkan ke dalam saku celananya.
Jungkook tipe yang 'berfikir sebelum bertindak'
"Kau mau apa?" lirihnya sambil mendongak ke arah Jungkook.
"Diam, sakit atau—"
Jungkook sedemikian menyumbat darah Jimin mengenakan kacunya. Menutup lukanya dengan perban dan plester.
Rupanya dia memilih mengobati
"Dari mana kau mendapatkan itu?"
"Aku selalu membawanya, kau pikir jatuh sudah direncana? "
Jungkook tersenyum samar setelah mengobati Jimin. Berdiri tegap dan memasukan kotak obatnya ke dalam tas. Lajunya Jungkook kemudian berjalan cepat meninggalkan si hyung —yang masih tersungkur memegangi jidatnya—
"Jungkook !"
Lantas Jungkook menoleh. Menaikan sebelah alisnya dan bergedik.
Apa lagi?
"Bantu aku, aku tidak bisa berjalan"
Astaga, well kakinya terasa nyeri
Seungkap kebenaran menjelaskan ternyata Jimin memang lemah. Tetapi jangan lewatkan dia sebagai orang yang ceria dan selalu memberi semangat kepada orang lain, dengan orang yang baru Ia kenal sekalipun.
Jungkook menghampiri Jimin. Lalu membusungkan badan membelakanginya. Mendesah geram terpaksa.
"Maksudnya?"
"Katanya tidak bisa berjalan, ayo naik"
Matanya membulat seketika. Tidak menyangka dengan Jungkook, akan berbaik hati menggendong tubuhnya. Jangan lupakan pupilnya yang terlalu bersemangat.
"Jungkook"
"Ya?"
"Mengapa kau diam? Apa aku berat?"
Jungkook bukan tipe yang mengumbar keluhnya kepada orang lain. Secara tersirat bisa dikatakan lebih tepat untuk menyimpan sendiri dalam hatinya. Ia hanya meringis, Jungkook juga tidak dapat berbohong untuk masalah keluhnya. Maka Jungkook mengatakannya dengan halus—
"Sedikit."
*-*
.
.
.
Jungkook tengah membasuh kepalanya. Kepulan asap memuai dari dalam kamar mandi menyertai saat Jungkook keluar darinya. Dia menghela sejenak.
Jungkook sadar ponselnya bergetar. Menduga pesan dari seorang manusia, yang selalu memiliki ke unikan di dalam dirinya. Tidak pula dengan sikapnya yang bercermin domokun. Imut dan menggemaskan.
Form Park Jimin :
~Sudah pulang? Wahaha aku ingat saat tadi kau diam karena menahan berat badanku kan? '—'
~Maaf ╯﹏╰
Jeon Jungkook :
~Sial..
Form Park Jimin :
~Tidurlah changiii. Aku akan datang ke Cafemu besok malam. Hihihi ^O^
Jeon Jungkook :
~Changii? dasar domokun! Aku juga akan tidur tanpa kau suruh
Form Park Jimin :
~Ahaha baiklah
~Hee.. domokun? '—'
Jungkook hanya tersenyum miring setelahnya. Mengabaikan pesan Jimin yang terus masuk dalam ponsel Jungkook. Menanyakan seputar domokun yang membuatnya penasaran. Jungkook hanya akan terlihat senyum dalam tidur, menutup rapat matanya. Ngomong-ngomong tentang sikap Jimin sebagai seorang pria yang dua tahun lebih tua, seharusnya dia dapat lebih dewasa dari Jungkook. Jimin cenderung ceroboh dan merepotkan. Dan nampaknya Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mengendalikan sifatnya. Berlawanan, dengan orang seperti Jungkook. Jenius, dan berfikir tentang apapun yang harus Ia lakukan dengan serius. Tapi tidak masalah, Jungkook tetap menganggapnya sebagai teman. Bahkan Ia sekalipun dapat menjadi pelindungnya.
Form Park Jimin :
~Jungkook, apa itu domokun?
~Jawab aku
~Hey kenapa tidak dibalas?
~Jungkookie pabbo!
*—*
.
.
.
Hari ini Jungkook pulang larut dihari rabunya. Jungkook terlalu sibuk mengurus perihal pentingnya. Sedikit janggal, seharian ini tidak ada manusia yang selalu merepotkanya dimanapun.
Jungkook sudah seperti detektif, menelusup keseluruh ruangan di sekolahnya namun tetap saja nihil. Jimin tampaknya tidak berkeliaran, sosoknya kian membuta dari sekolah itu. Dia bolos? Ia kembali dalam mode kritisnya. Apapun yang bisa Jungkook lakukan, akan dilakukan dengan serius.
Kembali berfikir.
Alhasil Jungkook memilih mendatangi rumahnya. Dengan sekotak susu cair dan biskuit untuk Jimin.
Tidak perlu lama untuk menunggu. Adiknya membuka pintu, menyuruhnya masuk dan mengantarnya ke kamar si Pemilik rumah.
Hatcuu!...
"Dia di sana hyung, aku sarankan pakailah masker agar kau tidak tertular"
"Mm, siapa namamu?"
"Park Mingyu"
.
.
.
Jangankan Jungkook, Jimin saja tidak mengerti mengapa Ia menjadi Flu berat seperti sekarang. Badannya meringkuk selimut tebal berwarna coklat tua. Dahinya berkompres dan hidungnya pun sedikit memerah. Masih terpapar jelas lekukan bekas luka di dahinya
—yang sekarang sudah terlepas dari balutan perban dan plester—
"Kau mencariku, ya? Haha— hachuu!"
Tiba tiba tingkahnya berubah kaku. Dia menutup wajahnya.
"Hachu.. hachuu!"
"Kau kenapa? Alergi, masuk angin, atau demam musim panas?"
"Entahla—hachuu!"
Dan benar, suara Jimin terdengar tidak seperti biasanya. Ia akan semakin kesulitan mengikuti pelajaran dalam keadaan seperti ini.
Jungkook kurang begitu faham dengan sakit macam apa pada orang itu, membuat suara dan pergerakannya melambat 45 derajat. Bahkan mungkin —Jungkook juga dapat tertular . Yash, lupakan saja. Jungkook sudah menyusun strategi.
Well. Dia memiringkan wajahnya penasaran menatap Jungkook —ahh mungkin lebih tepatnya barang yang dibawanya— Jimin masih dalam mode kaku, keadaannya tidak baik. Hidungnya me merah.
Jungkook menyibakkan poninya. Meletakkan susu kotak dan biskuit untuk Jimin dinakas seraya duduk. Jimin nampak buruk, bersin begitu sering hingga hidungnya berkedut.
"Alergi dingin ya? pasti berat buatmu"
Entah itu demam, alergi, ataupun flu sekalipun Jungkook tidak peduli. Yang dia tahu hanyalah semacam sakit per-musim dalam tiap sesi. Uhmm. Semua orang memiliki riwayat demam musim, termasuk Jimin.
"Mm, aku... tidak terl— hachuu! ..."
"Perlu bantuan?"
Ia memalingkan wajah. Masih dalam mode kakunya. Menutupi area hidungnya dan berkata..
"I'm fine, hachuu!"
.
.
Tidak butuh waktu lama, setelah meneguk obat dan bersinnya pun mereda, Jimin tidur. Pukul empat sore, Jungkook pergi.
"Hei, gomawo"
"Sama-sama hyung"
Jungkook membungkuk sempurna 45 derajat setelah berpamitan pada adik dari orang itu — orang yang memiliki masalah dengan hidungnya. Lalu Ia pergi.
*—*
.
.
.
Dua puluh menit setelah Cafe dibuka,segenap manusia normal mulai memnuhi. Jungkook beserta rekannya sedikit kualahan. Well, Jungkook juga memiliki tanggungan kerja sampingan empat jam terkahir sebelum Ia benar-benar dipertemukan dengan waktu sucinya — Yash, waktu istirahat.
Sebagai seorang pelajar, Boss nya memberikan keringanan padanya untuk bekerja lebih singkat dibanding yang lain. Seperti dejafu, Jungkook benar-benar beruntung karena hal ini sama seperti sebelumnya.
" Yah, hari ini Ameiru sangat ramai"
"Mm"
Jungkook terkesan rapih mengenakan seragam Ameiru, sambil membawa nampan berisi note pesanan untuk pelayan di Cafenya.
Cute.
Ketika semakin malam Ameiru semakin sedikit pengunjung. Karena pengunjung juga butuh istirahat. Saat Jungkook hendak melepas seragamnya, salah seorang seniornya melambaikan tangan padanya. Jungkook tahu isyarat itu, dia menghela nafas berat.
"Hey Jungkook, antarkan pesanan ini ke meja tujuh. Sepertinya kita mendapat pengunjung spesial malam ini"
"Bukankah kita sudah tu—"
"Tidak masalahkan? Kita tutup tepat setelah dua menit"
Berhubung sudah larut Jungkook sedikit berfikir, manusia manakah yang rela mengunjungi Ameiru pada pukul 22.00 ? Bahkan papan diluar sana sudah bertuliskan 'close'
Sial.
Jungkook segera mengantar, tidak lupa dengan senyumnya yang sedikit terpaksa agar terlihat sopan.
"Pesanan anda—"
.
.
.
"Eh, Jimin ?!"
"Heee... hachuu!"
Orang itu tersenyum kuda. Menampakkan cengiran serta mata sabitnya mendongak Jungkook. Kau tahu, hidungnya masih me-merah.
.
.
.
Jungkook menghela nafas. Beralih menemani Jimin diakhir jam kerjanya. Memperhatikan Jimin merapihkan banny yang bertengger dikepalanya. Menyangga dagunya dengan tangan yang bertumpu pada siku dan meja.
"Jungkook"
"Hm"
"Itu..." Jimin mengaduk-aduk cangkir kopinya, seraya gugup ingin mengeluarkan kata.
.
.
"Jungkook"
"Apa?"
"Apa itu domokun?"
"Oh, jadi kau kesini hanya untuk bertanya itu?—
"Ayolah, kau merusak waktu berhargaku"
"Dan lebih buruknya, kau belum pulih kenapa nekat datang kesini?"
"Tapi kemarin aku sudah memberi tahumu untuk datang. Kau lupa ya?—"
"Uhmm, aku sudah membaik"
"Ck. Mari kuantar pulang"
Jungkook beranjak dan meraih pergelangan Jimin. Ia hanya ingin memanjakan diri dengan sisa waktunya sebelum tubuhnya ditugas-paksakan untuk beraktivitas kembali.
"Jungkook ! Aku belum selesai"
Tampaknya pria tadi tidak terima. Menampilkan wajah cemberutnya tanda tidak kesukaan sikap Jungkook padanya. Dia mengelak, berteriak protes kepada orang disebrangnya. Yang mungkin sekarang tengah menatapnya dengan tatapan polos, dan tangannya yang terselip ke dalam saku celananya. Tangan lainnya menutup telinga seolah mengejek si pria tadi yang tengah berunjuk rasa kepadanya.
"Aku pulang" Layaknya pemberi informasi, Jungkook mendeskripsikan suaranya dengan tenang dari sebrang jalan.
"Tapi—"
"Sudah cukup, aku pulang"
Jimin mengerucut. Sangat lucu, hampir seperti domokun. Menggemaskan, tetapi juga merepotkan. Dia menatap Jungkook intens sebelum akhirnya Ia masuk ke dalam rumahnya. Menggertakan kakinya seperti anak kecil. Jungkook sedikit tertawa, tapi tidak terlalu keras.
.
.
.
Malam ini Jungkook terlihat sangat lelah, sehingga setelah membasuh diri Ia pun terkapar di atas kasurnya menatap langit-langit. Matanya sudah tidak lagi dapat berkompromi dengan kondisinya yang memang sulit untuk diajak terlelap. Jungkook menutup mata dengan sebelah lengan kanannya.
Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Bahkan sangat familiar di dalam otaknya. Dia yakin, orang itu
Form Park Jimin :
~Hei changii.. suratmu membuatku tertawa terbahak-bahak wahaha ^O^
~Tidak berani memberikannya langsung padaku, hahaha
~ Bahkan kau menitipkannya pada adikku
~ Well, bilang saja kau menyukaiku ya kan?
Mungkin sebenarnya Jungkook sudah terlalu lelah membalas pesan Jimin, apalagi untuk mengetik beberapa huruf qwerty yang sedikit rumit. Jungkook hanya membalasnya singkat.
Jeon Jungkook :
~ Lol
Form Park Jimin :
~ Singkat Kook! ╯ω╰
~ Mengaku saja lah! Hahaha
~ Apa maksudnya urusan pribadi dua munggu?
Jeon Jungkook :
~ Cerewet! domokun sialan
~ Usiamu dituntut untuk tidak boleh tahu urusanku
Form Park Jimin :
~ Fck, aku dua tahun diatasmu!
~ Oii, kenapa tidak dibalas ya?*-*
.
.
.
— 6 minutes later —
.
.
Jeon Jungkook :
~ Kenapa tidak tanya adikmu, dia memiliki domokun 'kan?
.
.
Hari ini Jungkook pergi. Tepat saat Jimin berusia 22 tahun.
Ke tempat yang jauh, untuk memulai sebuah pertandingan. Ia meninggalkan Seoul untuk waktu yang lama. Jungkook tidak bisa menyapa ataupun bertatap muka dengan Jimin, terlalu pagi untuknya dituntut segera berangkat.
Sudah saatnya. Bagi Jungkook untuk memenuhi urusan pribadinya. Ada rasa berat hati tertancap dilubuk periuk dalam, meninggalkan kota kenangan yang selalu mempertemukannya dengan Jimin yang merepotkan. Ketika dirasa ponselnya bergetar sekian banyaknya. Bagaimana Ia dapat berkutat? Sedangkan di sana keadaan Jimin sangat Ia fikirkan secara dalam-dalam. Bisakah Jungkook berkata selamat tinggal saat ini, bagaimana Jimin tanpanya? Akan seperti apa keadaannya?
Form Park Jimin :
~ Jungkook, kau kemana?
~ Kenapa tidak sekolah? Rumahmu sangat sepi ╯ω╰
Jeon Jungkook :
~ Ahaha, iyakah? uhmm... maaf
Form Park Jimin :
~ Jungkook, kau pergi kemana?
~ Tidak lama kan? Aku akan menunggu
Jeon Jungkook :
~ Tidak! Jangan menungguku hyung...
~ Aku... tidak akan kembali dalam waktu dekat
Form Park Jimin :
~ Hah? Katakan padaku, sebenarnya ada apa?
~ Kenapa tidak berpamitan? Kau melupakan ku? Apa kita bukankah teman lagi?
Jeon Jungkook :
~ Bukan hal yang dapat dijelaskan,maaf
Form Park Jimin :
~ Jungkook, aku masih memiliki dua biskuit pemberianmu.
~ Aku ingin kita makan bersama, hey aku akan merindukanmu. Hahaha ^_^
.
.
Tapi Jungkook tidak mengira. Keadaannya sangat rumit dan susah dijelaskan. Terakhir berkomunikasi dengan orang yang jauh di Kota Seoul, pada bulan Juni lalu.
Skip. 12 august-
Oh. Baiklah, Jimin sudah seperti orang sekarat. Tanpa Jungkook hidupnya seperti abu-abu. Bukan mawar yang tepat mekar seperti keadaannya sebulan yang lalu. Meskipun begitu, namun nyatanya satu bulan tidak diberi kabar oleh yang muda itu seperti...
Seperti..
Telah basi.
Dilupakan. Atau bahkan sudah benar-benar dibuang? Dan jika Jimin terlampaui menjadi mawar mekar yang tumbuh karena Jungkook, itu salah!
Ia sudah layu, bahkan durinya melukai bagian tubuhnya yang lain. Jimin tahu persis, Jungkook bukan tipe tanah yang cocok untuk mawar seperti dirinya. Tapi jika dipaksakan, mereka saling melengkapi. Kurang lebih seperti itu, gambaran yang dapat Jimin awangkan.
"Hyung..."
Adik kecilnya merengek. Seolah ikut larut dalam kesedihannya. Ada apa? Kenapa?
Kenapa, Jungkook tidak memberinya kabar selama satu bulan ini? Bahkan dering teleponnya berisyarat terhubung, dan —atau sengaja tidak ingin menjawab telefon Jimin?
Ou. Dia semakin buruk.
"Hyung.. ada sesuatu yang ingin aku tunjukan"
"Apa" suaranya terdengar lebih serak.
"Ini.."
Didatanginya Jimin dengan satu kotak kubus berlapis kertas berwarna biru. Jungkook tahu Ia penyuka biru. Dia menunjukan ekpresi bingung. Apa maksudnya?
.
.
.
Hei, ada suatu hal yang harus aku katakan padamu. Ini mengenai domokun..
Ada berbagai cara seseorang dalam penyampaian perasaan. Contohnya aku, aku tidak dapat mengatakan apa yang aku rasakan dengan keadaan sebenarnya padamu. Seperti sekarang, kau pasti sudah membacanya 'kan hyung?
Berarti aku sudah berada di Beijing. Maaf sebelumnya aku tidak memberi tahu padamu. Ini adalah surat kedua dariku setelah surat yang kau baca pasca Alergi musim dingin waktu itu.
Oke. Domokun, itu adalah sebuah boneka. Yang dimana kau sedang memegangnya sambil membaca surat ini. Aku sering menyebutmu domokun karena...
Domokun itu lucu, imut dan menggemaskan. Seperti dirimu.
Aku menyukai domokun, karena aku menyukaimu. Kau seperti itu, Park
Jadi itulah mengapa aku sering memanggilmu dengan sebutan itu. Jangan marah ya? Aku bilang akan pergi dengan kurun waktu kurang lebih 2 minggu 'kan? Tapi ada satu hal yang membuatku harus tertahan disini. Maka jangan menungguku, tetaplah ceria hyung.
Aku mencintaimu,
Jeon Jungkook.
.
.
.
Hari ini mungkin akan turun salju. Mengingat kejadian Alergi musim dingin yang dialami oleh Jimin. Ia tahu, maka Ia siap. Dengan bermodal sepatu boot dan hoodie putih yang sangat manis Ia kenakan. Menunggu dibawah tepi sungai dengan domokun didalam tasnya. Jimin terlihat lesu.
"Disitu rupanya"
Jimin kemudian menoleh. Menangkap sosok Jungkook dengan mode polosnya dari depan. Jimin sedikit membuka mulut, merintih shok tidak percaya.
"Jungkook..."
Tidak apa-apa
"Jungkook...!"
Aku tidak apa-apa!
Jimin berlari. Memeluk Jungkook kian erat seraya tangis sedihnya. Ia menjerit, seolah berunjuk rasa kepada Tuhan.
"Demi apapun katakan bahwa ini hanya sandiwara!"
"Tidak hyung, ini sungguhan"
"Kenapa ini?! Ada apa—
— Kenapa tidak memberi kabar padaku?! Jawab! Terakhir kau bersamaku, kau baik-baik saja... dan kenapa sekarang berkahir seperti ini?!
Aku mencintaimu Jungkook"
.
.
"Kau mencintaiku?"
"Uhmm"
"Saat aku mengenakan kursi roda sekalipun?"
"Ya!"
"Bahkan, jika sebelah mataku tidak diperbolehkan melihat keindahan dunia lagi?"
"Yang terpenting, sosok Jungkook tetap bersamaku. itu sudah membuatku bahagia. Biar keadaanmu seperti ini"
"Jimin, kau milikku"
.
.
.
.
"Jungkook, sebenarnya apa yang terjadi saat kau di Beijing?(´ー`) "
"Berapa kali harus kukatakan, itu adalah hal yang sulit dijelaskan. Terlebih usiamu dituntut untuk tidak boleh mengetahuinya"
"Tapi kena— hachuu!"
"Diamlah, alergimu datang lagi 'kan"
"Uhm, baikl- hachuu"
"-____-"
.
.
.
.
End.
Gaje ya?:"V gak yakin ini menarik, yaa yaudah nikmatin aja ㅋㅋㅋㅋ😂
There are no comments yet. Log in to be the first to leave a review!





