Fanfics

At Seven

02:17, 12 September 2016

Fanfiction by Jkookie

Ini kali ke dua Jungkook mengadakan sebuah pesta bertema klasik. Jungkook sendiri tidak begitu menyukai jika hari kelahirannya dirayakan secara umum. Hanya ketika Jungkook sudah memasuki usia dewasanya. Konon sering disebutkan sweet seventeen. Dimana usianya menginjak 17 tahun, perkara itu dimulai.

"Kenapa buru-buru? Baru juga akan dimulai? " Jungkook menahan lengan lelaki berkemeja putih didepannya.

"Maaf, tapi aku sudah harus pulang" Dia  menjeda. Melepaskan pegangan Jungkook dilengannya secara paksa.

Jungkook terdiam. Tidak berkutat sedikitpun, Ia hanya bergumam. Itu juga bukan haknya untuk menyuruh lelaki itu tetap tinggal. Berikut serta bersama Jungkook menyaksikan bagaimana Ia memotong kue pertamanya. Jungkook harus mengizinkannya pulang untuk itu.

.

.

Kejadian itu terulang kembali ketika Jungkook berusia 21 tahun. Hari yang menjadi hari kelulusannya. Dia, lagi-lagi terpaksa pergi pulang kerumahnya. Dengan tanpa sepotong kue dari Jungkook, tanpa menyaksikan kemeriahan pesta Jungkook. Mengecewakan.

Jungkook tidak sempat menahan orang itu. Beberapa detik sebelum Jungkook meniup lilin, Ia sudah pergi. Akhirnya dia terduduk setelah acara selesai ditepi kasur yang bersarang di dalam biliknya. Merogoh saku untuk mencari ponsel, dan mengirim beberapa pesan singkat.

Kenapa buru-buru lagi? dan kenapa harus saat meniup lilin?...

Ia menghela. Setelah tanda ceklis memberinya isyarat bahwa pesannya telah terkirim. Hanya, Jungkook harus menunggu sekitar 20 menit ketika pesannya terbalas.

.

.

Maaf, ibuku menelfon.. aku harus segera pulang Jungkook.

Kenapa juga aku harus menunggu 20 menit? Apa aku tidak penting bagimu?

Maaf aku lupa, aku harus ke apotek untuk membeli obat

Hm, tidur gih.. besok pagi jam delapan harus sudah didepan rumah

Baik.. kau juga harus tidur!

Percakapan yang begitu singkat tanpa balasan dari Jungkook. Ia sudah terlampau jauh kedalam mimpinya. Mungkin Jungkook harus mengisi dayanya besok pagi, ketika ponselnya terkulai menyala disamping bantal. Daya ponsel Jungkook tidak akan bertahan lama jika seperti itu.

.

.

Pagi berikutnya Jungkook bangun dengan raut gusar. Melirik jam dinding yang menunjukan pukul delapan pagi. Harusnya Ia sekarang sudah bersama Jimin. Namun, dia terlalu nyaman di alam mimpi. Bersiap untuk segera membasuh diri dan berdandan rapih agar terlihat lebih menawan. Tepatnya Jungkook ada urusan dengan Jimin hari ini.

"Ibu, aku berangkat" Kata Jungkook sedikit tergesa-gesa.

"Hati-hati, bawakan ini untuknya"

Jungkook mengangguk. Mencium pipi ibunya dan berpamit pergi. Dengan sekantong plastik berisi beberapa pai coklat yang Jungkook bawa untuk diberikan kepada Jimin.

Kecepatan Jungkook melampaui rata-rata. Risau ketika mengetahui Jimin sudah menunggunya di depan rumah. Jungkook memposisikan motornya.

"Maaf aku terlambat" Jungkook melepas helm seraya turun dari motor.

"Tidak apa-apa. Kau sering terlambat untuk hal seperti ini"

Jungkook menghela nafasnya perlahan. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menetralkan suasana Jimin. Jungkook tersenyum tipis.

"Ini dari ibuku" Jungkook menyeringai kecil. Sambil memberikan sekantong pai coklat pemberian Ibunya kepada Jimin.

"Oh, pai coklat! Terimakasih, sampaikan padanya untuk ini"

Keduanya saling menatap samar. Jimin yang lebih dahulu mengajak untuk segera pergi ke tujuan mereka. Jungkook hanya mengangguk, dan mengikuti.

"Sebenarnya kita mau kemana?"

"Nanti kau juga akan tahu. Pegangan"

Jungkook mempercepat laju motornya. Agar mereka segera sampai. Jimin memejamkan matanya, memeluk pinggang Jungkook agar Ia tidak jatuh. Jimin takut, ketika Jungkook menggila dengan kecepatannya berkendara.

"Lain kali jangan ngebut, kalau jatuh bagaimana?" Jimin mengerucut. Sambil melahap pai coklatnya.

"Iya-iya"

Jungkook tersenyum, mengusuk kepala yang lebih pendek disampingnya.

"Jimin, ada yang ingin aku bicarakan padamu"

Jimin terlalu sibuk mendandaskan seluruh pai coklatnya. Hanya tersentak ketika Jungkook bersuara datar seperti biasanya. Dengan mulut penuh Jimin menoleh.

"Katakan saja. Akan aku dengarkan"

Yang lebih tinggi memantapkan. Menarik nafasnya dalam dan kemudian Ia hempaskan. Menatap lelaki disampingnya dengan lekat.

"Ayo kita menikah"

....

.........

"Apa? M-menikah?"

Lagatnya berubah kikuk. Jimin  sepenuhnya sadar menelan ludah kasar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Begitu terkejut, sealiran darahnya yang tiba-tiba berdesir.

"Kenapa, kau tidak mau ya?"

"Bukan, bukan begitu! Kita baru saja lulus. Apa kau punya pekerjaan untuk menghidupiku?"

Jungkook menatap kelangit-langit. Duduk di atas bukit yang menyediakan lebih dari seribu hamparan rumput hijau, dan beberapa diantaranya terkombinasi oleh warna bunga.

"Aku sudah diterima bekerja diperusahaan milik ayahku di Tokyo. Jangan khawatir dengan itu"

Jungkook menepuk bahu Jimin. Mencoba meyakinkan si lelaki pendek selaku kekasihnya.

"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku hanya ingin.. lebih lama menghabiskan waktu, bersamamu"

Hanya tertunduk dan menetralkan nafasnya yang tersenggal. Ia diam. Terisak seraya bersiap mengutarakan benaknya.

"Jungkook—"

Jimin memeluknya. Laki-laki yang menjadi panutan atas bahagianya. Menelusupkan rupa yang berlinang air mata. Mengkedapkan isakannya pada bahu Jungkook.

"Besok, datang kerumah bersama ibumu. Kita selesaikan semua ini" Jungkook balas memeluknya.

Jimin terasa mengangguk bagi Jungkook. Ketika didekapannya. Jimin kembali menangis dalam diam.

"Aku mencintaimu Jimin"

Hari itu juga, sehari penuh mereka menghabiskan waktu bersama. Langit seperti menunjukan pukul tujuh malam. Memang benar, karena suasana yang berubah malam seiring tenggelamnya matahari. Jimin mulai resah.

"Jim—"

"Jungkook ayo pulang"

"Tapi kan—"

"Ayo pulang Jungkook!" Jimin semakin meronta. Menguntit lengan hoodie Jungkook.

"Hei, kita belum pernah jalan-jalan sebelumnya"

"Aku tidak peduli, ayo pulang! Apa kau masih belum mengerti?"

Untuk Jimin apa pun itu dia akan mengalah. Jungkook meng-iyakan kemauan Jimin untuk pulang. Mendengar Ia terus-terusan merengek dapat membuat gendang telinga Jungkook sobek.

"Baiklah"

.

.

Jimin sigap menuruni motor Jungkook. Mengucap terimakasih dan selamat malam, kemudian masuk kedalam rumahnya tanpa perduli dengan orang yang menatapnya bingung. Sesegera mungkin Jungkook melajukan kecepatan spidometernya. Raut wajahnya terlihat kesal, walau tertutup helm. Orang lain tidak akan menduga Jungkook berkendara dalam keadaan emosi.

Suara kenop pintu Jungkook terbuka. Memperlihatkan sosok ibunya dengan raut getir. Kian lama Jungkook menangis memeluk ibunya.

"Ada apa?" Katanya dengan mengelus punggung Jungkook.

"Tidak apa apa"

Jungkook tersenyum, sambil mengusap air matanya. Berlalu meninggalkan ibunya dengan selintas tatapan bertanya.

Jungkook menghempaskan tubuh ke ranjang. Menatap langit-langit atap biru. Membayangkan kembali betapa sakit mendasar di dalam hatinya. Mengingat bagaimana sikap Jimin yang sedikit mengacuhkannya. Jungkook kembali terasa sesak.Suara ibunya begitu mengejutkan, tapi Jungkook tahu itu terkesan menenangkan. Dia tidak mengerti bagaimana menjelaskan tentang perkaranya. Jungkook terlalu takut untuk memendamnya sendiri. Jungkook juga butuh perhatian. Lebih dari yang Jimin lakukan, Jungkook ingin itu. Jungkook memilih menceritakan semuanya, kepada sang ibu. Ia terlalu sakit untuk menyembunyikan, terlebih di dalam hati kecilnya.

"Mungkin dia butuh waktu. Besok ketika Jimin datang bersama Ibunya, selesaikan ini baik-baik"

Jungkook mengangguk. Ia tidak sanggup berkata apa pun. Hanya terisak dalam tangis diam. Ibunya dengan senang hati mengusap air matanya yang mengalir begitu saja. Diam-diam ibunya juga merasakan hal yang sama. Melihat Jungkook terlarut dalam kesedihan membuatnya gelisah, hanya mampu memeluk Jungkook. Berharap agar Ia segera tenang.

"Selamat malam Jungkook"

Senyumnya tidak terlupakan. Begitu setelah mengecup kening Jungkook dan mematikan lampu kamarnya. Jungkook memejamkan matanya.Tidak. Dia bahkan tidak dapat tidur untuk saat ini, Jungkook mengambil ponselnya dimeja. Melihat beberapa pesan, kebetulan itu dari Jimin.

Maaf...

Aku langsung menutup pintunya tadi,

Jungkook?

...

Jungkook, kau marah padaku?

Kau marah kan?

Jungkook menghela nafasnya. Menutup kembali layar ponselnya tanpa membalas pesan. Jungkook hanya terlalu lelah untuk hari ini. Izinkan hatinya tenang untuk sesaat. Jungkook ingin istirahat. Kembali terlelap. Meringkuk selimut tebal dan mencoba tidur, air matanya mendobrak mengalir. Jungkook terlalu sakit.

.

.

Minggu pagi yang kelam. Awan mendung sedang meniangi kota Seoul. Tidak lama akan turun hujan. Jungkook masih setia meringkuk dibawah selimut tebalnya. Mengingat Ia menghabiskan waktu menangis semalam. Jangan katakan dia cengeng, hanya untuk Jimin dia dapat menangis kapan pun. Jungkook sudah kelewat menyayangi nya. Suara ketukan pintu yang sangat keras mampu membangunkan Jungkook. Itu adalah Ibunya. Yang mengantarkan segelas susu.

"Jam berapa ini? Kenapa baru bangun? Jimin dan Ibunya sudah menunggu"

Mata Jungkook sedikit merekat layaknya lem. Masih terlalu mengantuk untuk mencoba bangun pada pukul sembilan pagi. Jungkook masih belum sadar.

"Habiskan susunya, ibu tunggu dibawah. Jangan lama!" Tegasnya, menepuk bahu Jungkook dan beranjak pergi.

Jungkook sudah rapi pagi ini. Setelah menandaskan segelas susunya dan segera mandi, Jungkook siap. Dengan mengenakan kaos putih dan celana hitam panjang. Jungkook menemui Jimin.

"Selamat pagi!" Sapa seorang wanita yang terduduk disamping Jimin.

"Pagi" Balas Jungkook dengan senyumannya.

Jungkook sekilas melirik Jimin yang sedang tertunduk menatap lantai, Ia begitu manis mengenakan sweater abu-abu misti. Jungkook melengos. Ia masih sakit untuk mengingat sikap Jimin. Terduduk santai didekat Ibunya, Jungkook menghela napas.

"Kami pergi dulu, untuk mengurus makanan pernikahan kalian" kata Ibu Jimin tiba-tiba.

"......."

Suasana berubah sunyi ketika kedua wanita itu pergi. Jimin tampaknya masih setia diam. Jungkook pun begitu. Sampai akhirnya Jungkook beralih menyalakan AC. Jimin mulai angkat bicara.

"Diluar dingin, kenapa menyalakan AC?"

"Ketika mendung, aku selalu kepanasan"

Jimin bungkam kembali. Menggosok-gosokan tangannya untuk menetralkan suhu tubuhnya yang mulai tidak stabil. Nafasnya kian memberat. Hidungnya terasa ngilu untuk bernafas. Jimin berulangkali melakukan itu.Jungkook menatapnya aneh, semakin fokus pada obyek yang mulai mengeluarkan darah dari hidungnya. Mata Jungkook melotot.

"Astaga Jimin"

Jungkook dengan sigap memeluk Jimin. Mematikan AC agar Jimin tidak merasa lebih dingin.

"Jungkook, tolong ambilkan tisu"

Tanpa perintah juga sekalipun. Jungkook langsung mengambil kacu miliknya yang berada didekat televisi. Begitu telaten membantu Jimin membersihkan sisa darah yang terus mengalir membanjiri sela mulut dan hidung Jimin.Jimin merasa buruk. Kepalanya terasa lebih berat, sebelum akhirnya Ia terkuali lemas di atas sofa.

"Yah mungkin sebaiknya kau tiduran. Aku akan mengambilkan selimut dan es"

Jimin mengangguk. Rasanya kurang tepat untuk menyelesaikan masalah Jungkook. Dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Mengetahui kondisi Jimin yang tiba-tiba seperti ini, membuat Jungkook memendam rasa seketika.Jungkook kembali, menyelimuti Jimin dan membalutkan es pada hidungnya.

15 menit setelahnya. Jimin mulai membaik, darah dihidungnya pun juga ikut berhenti. Jungkook sendu menatap Jimin.

"Jimin, kau sakit?"

Jimin beranjak terduduk. Menghela napas sedikit. Kemudian menggeleng.

"Terlalu dingin membuatku mimisan, Jungkook"

Jungkook menelan kasar salivanya. Jungkook benar-benar baru mengetahui hal ini dari Jimin. Dia memang sangat tertutup, maka dari itu Jungkook sama sekali tidak tahu tentang ini. Jungkook tertegun, Ia terlalu cuek untuk menyelidiki apa apa tentang Jimin. Bahkan hingga saat ini, pantas saja Jimin mengenakan sweater.

"Jungkook, aku tahu kau marah. Aku minta maaf karena—"

"Sudah tidak apa-apa, lupakan saja"

"Tapi ada yang harus aku jelaskan—"

"Lupakan saja!"

Keduanya diam sejenak. Jimin masih mengusap hidungnya. Jungkook bersedekap, merebahkan dirinya disofa. Menyampingi Jimin yang sejak tadi kerap meliriknya. Jungkook meratuk, Ia tidak bisa terus terdiam mematung seperti ini. Dia ingin Jimin menghiburnya.

"Setidaknya jangan diamkan aku!"

"Huh? Maaf, aku bingung harus berkata apa Jungkook"

"Cobalah untuk bernyanyi"

"Oke, tapi—"

Ponsel Jimin berdering. Mencoba menjawab telefon dari seseorang yang menghubunginya. Terlihat Jimin sedikit berkutat dengan ponselnya sambil sedikit mengernyit.

"Jimin—"

"Sebentar.."

"Jimin—"

"Ya halo?"

Jimin menjauh. Memang sedang bertelefon, tapi kenapa harus menjauh? Maksudnya, apa se-pribadi- itu sehingga harus menyingkir agar Jungkook tidak mendengar percakapan mereka?Oushit! Jungkook terabaikan lagi. Jungkook mendengus kesal karenanya. Membanting remote yang sedari tadi berada dikepalannya dan beranjak pergi ke teras rumahnya.

Jungkook tidak sengaja mendengar sedikit percakapan Jimin. Seperti sedang berencana untuk bertemu malam ini. Hati Jungkook semakin panas. Jungkook menghela nafas.

"Jungkook?"

"Ya?"

"A- aku mau pulang"

"Baiklah"

.

.

.

.

Sudah tiga hari, Jimin tidak menghubunginya lagi. Sampai Jungkook kesal, kesal karenanya yang semakin diabaikan.Malam ini Jungkook berkendara cepat dijalanan. Nafasnya sedikit tersenggal. Melihat sekitar rumah Jimin yang dipenuhi dengan beberapa boneka salju.

"K-kenapa kau kesini?!" Jimin terpaku tiba-tiba. Memperlihatkan sedikit wajahnya dari pintu yang terbuka dari dalam rumahnya.

"Ada yang harus kita bicarakan"

Jimin mengangguk. Mengikuti Jungkook keluar diterasnya. Mempersilahkannya duduk, menghela nafas.

"Aku fikir hubungan kita membosankan"

"Apa maksudmu?"

"Aku ingin mengakhirinya"

Jimin sebelumnya menatap bebas ke langit. Menengok ke arah yang membuatnya terkejut. Melontarkan tatapan tidak percaya setelah Ia menutup mulutnya karena terbatuk. Membenahi sedikit posisi banny abu abu yang Ia pakai.

"Jungkook—"

"Aku tahu kau sering berkencan dengan orang lain"

"Itu—"

"Dan sekarang kau lebih mengabaikanku"

..

....

......

"Aku muak"

"Lupakan rencana pernikahannya"

Lambat laun menggeser sedikit pantatnya. Mendekat ke arah sang empu yang dilanda seribu kekecewaan. Jimin memegang lembut pergelangan Jungkook. Menatapnya lekat, dan bersuara lirih.

"Semua itu, tidak benar Jungkook"

Jungkook melengos. Seolah yang dikatakan kekasihnya itu hanya kedustaan. Ia bertahan menjaga air matanya yang hendak jatuh. Jungkook hanya terlalu rapuh memahami Jimin. Semakin dingin pegangan Jimin merasuk kedalam kulit pergelangannya. Jungkook menatapnya yang sedikit lesu.

"Jimin?"

"Tidak apa, aku hanya sedikit pusing"

Jimin beranjak. Melepaskan pegangannya dari Jungkook untuk mengambil segelas minuman. Sontak Jungkook terkejut melihat banny Jimin terlepas, menampakkan permukaan kepala Jimin yang mulai menipis.

"Jim..."

"Hey aku kemarin mencukur rambutku, baguskan" Jimin tersenyum lebar. Menampakkan mata sabitnya yang indah.Jungkook mendecih, menatap nanar sosok didepannya yang kian sibuk membenarkan banny.

"Bohong!"

"Kau berdusta Jimin!"

"Kau membohongiku"

"Kenapa kau merahasiakannya dariku?"

"Apa aku benar benar tidak penting buatmu?"

Jimin mengerut dahinya. Menutupi kedua matanya lantaran menangis. Menahan semua amarah yang ingin sekali dia luapkan. Tidak bisa, Jimin terlalu lemah untuk itu.

"Oke baiklah! Aku sakit... puas?!"

"Aku memiliki riwayat leukimia Jungkook"

Ini menusuk. Tepat didalam urat jantung Jungkook. Seperti dihantam ribuan pedang tajam. Menjerit dalam hati kecilnya.   

Menangis.

Tidak mungkin!

Dia bodoh....

.

.

"Apa yang aku katakan. Lupakan semua"

"Jimin aku mencintaimu, bangunlah"

"Kau adalah alasan mengapa aku berjuang selama ini"

"Hey kita harus menikah setelah ini"

"Please wake up hanny...."

"Sekarang aku faham, tentang rutinitas pukul tujuh malam itu. Kemoteraphy bukan?"

.

.

.

.

Perlahan Jungkook terpejam. Larut dalam keheningan yang membuatnya melupakan ini. Tidak sadarkan diri yang begitu lama. Hingga beberapa orang merintih menyebutkan namanya. Sampai akhirnya Jungkook tersadar. Membuka mata seraya berkedip, mengatur nafasnya yang sempit disela-sela alat pernafasan yang membantunya hidup.

Jungkook koma.

Yang menjelaskan bahwa semua adalah khayalan dalam ruh nya. Jungkook tersenggal. Pandangan pertamanya tertuju melihat Jimin yang begitu lekat memegang tangannya yang terbalut infus. Berlinang air mata bersama sanak saudaranya. Jungkook tahu, ini hanyalah mimpi dari tidur panjangnya. Mengingat goresan kenangan yang Ia ciptakan dijalan raya, membuat Jungkook harus terlelap tiga bulan lamanya. Dia mengerti, bahwa Jimin tidak pernah selingkuh sebelumnya.

"Jungkook, aku mencintaimu"

END.

There are no comments yet. Log in to be the first to leave a review!

Similar stories